Semarang – Program Studi Administrasi Bisnis FISIP Universitas Diponegoro kembali menyelenggarakan kegiatan UNDIP Global Classroom bertema “Cross-Cultural Marketing: Winning Global Markets through Cultural Intelligence” pada Selasa, (19 /5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Manajemen Pemasaran dan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Zhao Xingwen, Ph.D. dari Weihai Vocational College, China sebagai pembicara utama, serta Robetmi Jumpakita Pinem, S,AB, MBA, Ph.D. dari Universitas Diponegoro sebagai discussant. Webinar ini membahas perkembangan artificial intelligence (AI) dalam mendukung strategi cross-border e-commerce serta pentingnya cultural intelligence dalam memenangkan pasar global.
Dalam pemaparannya, Zhao Xingwen menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah lanskap perdagangan internasional, khususnya pada sektor cross-border e-commerce. China disebut menjadi salah satu negara dengan perkembangan AI tercepat di dunia melalui dukungan teknologi, industri digital, serta ekosistem e-commerce yang sangat besar. Pemanfaatan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi bisnis mulai dari riset pasar, pengelolaan produk, pemasaran digital, hingga layanan pelanggan.
Materi juga menyoroti bagaimana platform e-commerce asal China seperti AliExpress, Shein, Temu, dan TikTok Shop memanfaatkan AI untuk memperkuat daya saing global. Teknologi AI digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen, memprediksi tren pasar, menghasilkan konten pemasaran secara otomatis, hingga memberikan rekomendasi produk yang lebih personal kepada pengguna. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan pengalaman belanja yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen di berbagai negara.
Salah satu pembahasan utama dalam webinar ini adalah penggunaan AI dalam strategi content creation dan digital marketing. AI dapat membantu perusahaan menghasilkan deskripsi produk multi-bahasa, membuat visual produk secara otomatis, serta mengoptimalkan strategi promosi melalui targeted advertising berbasis data konsumen. Selain itu, AI juga dimanfaatkan dalam customer service melalui chatbot multi-bahasa yang mampu memberikan layanan cepat dan responsif selama 24 jam.
Dalam sesi diskusi, Zhao Xingwen juga menekankan pentingnya cultural intelligence dalam cross-cultural marketing. Perusahaan tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga harus memahami karakteristik budaya konsumen di berbagai negara agar strategi pemasaran dapat diterima secara efektif di pasar internasional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai integrasi antara AI, digital marketing, dan cross-border e-commerce dalam menghadapi persaingan bisnis global. Pemahaman tersebut dinilai penting bagi calon profesional bisnis agar mampu mengembangkan strategi pemasaran yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi internasional.
Penyelenggaraan UNDIP Global Classroom ini menjadi bentuk komitmen FISIP Universitas Diponegoro dalam memperluas perspektif global mahasiswa serta meningkatkan kesiapan lulusan dalam menghadapi transformasi dunia bisnis digital di tingkat internasional.
